Oleh : H. A. Muhammad Nur Syahid M., SE., ME.
Anda tahu problem terbesar umat ini apa? Bukan cuma utang luar negeri yang mencekik, bukan cuma harga-harga yang kayak roller coaster. Tapi beban ummat ini justru, Masjidnya.
Iya, Masjid. Coba lihat. Di setiap sudut dari desa sampai kota, Masjid berdiri megah. Kubahnya mengilap, lantainya marmer dingin bikin betah selonjoran. Masjid berharap terus diberi infak oleh ummat, tak pernah berfikir apa feedback yang dirasakan masyarakat.
Beban kita adalah adanya masjid-masjid egois yang tidak peduli keadaan masyarakatnya, tidak perhatian kepada fakir miskinnya, tidak sayang sama anak yatimnya. Mewah nan megah, tapi kehidupan jamaahnya? Getaran hidup lebih dominan ketimbang getaran qalbu saat dengar khutbah yang syahdu. Lebih haru memikirkan cicilan daripada saat zikiran.
Masyarakat kita sudah terlalu lama “miskin” di rumah Tuhan yang kaya dan megah. Ini ironi tingkat dewa. Kita sebagai orang masjid harusnya tersadarkan bahwa Masjid itu sebenarnya Raksasa Ekonomi yang sedang tidur pulas.
Gak perlu pake istilah-istilah canggih dan akademis atau apalah itu yang bikin orang awam alergi duluan. Bahkan tanpa embel-embel arab yang bikin saudara kita yang agak abangan sungkan masuk. Kita pakai saja logika warung kopi. Ini dia 5 Peran Nyata Masjid yang kalau dijalankan, bunga yang dianggap har tapi haram dan rentenir jadi melipir karena gak laku.
Stimulator Ekonomi Ummat: Berhentilah Jadi Tukang Tagih Amal!
Peran ini gak perlu pake mikir keras. Namanya Velocity of Money (kecepatan duit berputar). Setiap Jumat, setiap Tarawih, ada ribuan perut yang lapar. Ada motor yang butuh bensin.
Nah, saat ini yang terjadi apa? Jamaah datang, ada yang parkirnya bayar ke petugas yang tidak sholat, pulang beli sate ke tukang sate di luar pagar masjid. Duitnya muter, tapi masjid cuma kebagian sapu lantai atau sampah tusuk satenya.
Kenapa parkir tidak dikelola jamaah sendiri dengan tarif murah tapi tertib, petugasnya yah jamaah yang nganggur? Kenapa bazar Jumat di pelataran tidak dikelola Masjid yang jualan sembako murah atau buka lapak untuk UMKM sekitar tapi tidak melorotin duluan?
Masjid harus jadi pemantik pergerakan uang dan transaksi lokal. Ketika masjid butuh tukang bangunan cari dari warga sekitar. Ketika butuh katering buat rapat takmir atau berbagi nasi jumat, libatkan janda-janda sekitar yang jago masak. Jangan beli nasi box franchise mahal yang untungnya lari ke pemegang saham di Jakarta apalagi produkboikot afiliasi pembunuh massal. Putar duit itu di gang-gang sekitar Masjid. Itu baru stimulator. Itu baru ibadah yang terasa sampai ke perut. Itulah mengapa sholat kita diawali takbiratul ihram menghadap kiblat tapi justru ditutup dengan noleh ke kanan dan ke kiri. Iya menoleh sambil mengirim pesan yang menyelamatkan hidup masyarakat sekeliling.
Pusat Inkubasi Bisnis UMKM: Kandang Ayam, Bukan Kandang Macan.
Kita punya jamaah yang jualan cilok, jualan pulsa, bengkel motor. Mereka sebagian besar pejuang riba. Mereka terjepit: butuh modal, tapi Islam dan Masjid tidak punya solusi.
Masjid harus berhenti cuma ngasih pinjaman kebajikan Rp 200 ribu buat ongkos pulang kampung. Itu mah level tukang ojek minjamin tetangga yang mau mudik. Bikin Inkubasi yang beneran. Bukan inkubasi model proposal yang isinya teori Harvard. Tapi inkubasi model Angkringan:
Masjid Punya Tempat: Serambi belakang masjid yang luas itu buat apa cuma buat gudang kipas angin rusak? Jadikan Etalase Gratis UMKM. Taruh produk jamaah di situ. Kasih barcode QRIS (iya, QRIS, itu produk asli Indonesia yang sedang menghantui neraka).
Masjid Punya Modal: Dana Infaq yang ngendap itu jangan cuma buat beli kubah serupa emas lagi. Beliin Gerobak Stainless buat jamaah yang jualan. Modal Qardhul Hasan (pinjaman murni nol persen bayar berjangla). Nol. Kosong. Gratis biaya admin! Kalau jamaahnya gak balikin? Ya udah, anggap sedekah. Lebih halal duitnya ilang dipakai usaha orang susah daripada ilang ditilep bendahara atau deposito di bank non Islam.
Education Muamalah Centre: Belajar Dagang ala Rasul.
Ini yang paling sering salah kaprah. Bikin kajian ekonomi Islam, judulnya “Analisis Akad Syirkah Mutanaqisah pada Pembiayaan Properti”. Haduh. Mas-mas penjual gorengan disuruh mikir itu, besoknya gorengannya gosong semua, Bos.
Dakwah, masjid, ilmu, syariah semua harus dibawa merakyat, mudah diterima, mudah diamalkan, supaya ringan bagi mereka mengamalkan Islam ini. Kegagalan kita selama ini mendakwahkan ekonomi Islam, jangankan rakyat pakar ekonomi dan akademisi pun gelagapan dengan istilah-istilahnya, padahal syariatnya sebenarnya sederhana.
Kadang kita gembor-gembir masalah Gharar (ketidakpastian), masyarakat itu fahamnya gini : “Bu, kalau jualan, jangan ditimbang pake perasaan. Pastiin timbangannya pas. Takarannya jelas, Jangan nipu.”
Riba Jahiliyah susah difahami, ngomong aja: “Pak, kalau tetangga utang seratus bayar seratus lima puluh bulan depan, itu sama bunuh tetangga pelan-pelan. Allah juga marah dan tidak ridho. Hidup juga gak akan naik-naik. Mending jualan es teh manis aja, untungnya lebih berkah.”
Jadikan Masjid sebagai tempat belajar Praktik Muamalah Sehari-hari.
Pusat Training Bisnis: Ngajari Cara Bungkus, Bukan Cara Rapat.
Kita heran. Kenapa setiap ada acara Masjid, rapat panitianya 5 kali, breafing 3 jam, tapi hasilnya saat ada acara nasi kotaknya lembek dan bocor bawahnya?
- Sudah saatnya Masjid menggelar Training yang bikin basah Keringat, bukan cuma bikin kening berkerut. Bukan cuma pengajian Akhirat, tapi juga pengajian dunia.
- Training Packaging: Ajarin ibu-ibu bungkus nasi uduk pakai daun pisang yang rapi, bukan pakai styrofoam yang bisa bikin mandul.
- Training Digital Marketing: Pemuda masjid yang doyan main HP itu suruh bantuin jamaah jualan di Facebook Marketplace. Gampang. Jangan cuma dipakai buat stalking mantan. Belajar ads, belajar jualan online, biar suami-suami mereka tidak terjebak pinjol.
- Training Strategi Marketing : Ini ilmu sunnah paling mahal. Jadi pedagang itu jangan baperan. Kalau dagangan gak laku, ya evaluasi, jangan langsung nyalahin santet dan kiriman gaib kompetitor.
Pengembangan Usaha Wakaf: Duit Ngendap Itu Dosa Ekonomi.
Ini puncaknya. Bisnis bermodal Infak dan Wakaf Produktif. Istilah ini sudah lumayan dikenal, tapi pelaksanaannya masih sering kayak sinetron: dramanya panjang, endingnya gantung.
Kita punya tanah wakaf yang luas. Letaknya strategis, Apa yang dibangun?
A. Musholla Lagi. (Padahal depan belakang udah ada masjid). Suara TOA masjid tabrak-tabrakan.
B. Pasar Mini Wakaf UMKM
Saya pilih B. Bangun Pasar Mini Wakaf. Sewa etalase murah buat UMKM. Bahkan bisa setiap masjid punya swalayan wakaf, gedungnya wakaf, etalasenya disewakan, setiap rak diisi oleh jamaah dengan pilihan produk yang diatur oleh manajemen profesional. Jadi swalayan milik bersama, gedungnya milik masjid, produknya milik jamaah, pelanggannya masyarakat luas.
– Profitnya Buat biaya operasional Masjid: – Bayar listrik, gaji marbot yang layak, biar gak perlu berdiri ditengah jalan pake toa minta sumbangan tiap hari Jumat.
– Buat dana pendidikan: Beasiswa anak-anak marbot dan jamaah duafa.
– Buat subsidi dagangan: Masjid bisa subsidi harga minyak goreng. Loh ini kan intervensi pasar! Iya! Memangnya kita mau nyerahin harga minyak goreng ke mekanisme pasar yang isinya para kartel dan spekulan doang?
Saatnya Masjid Jadi Makelar Berkah, Bukan berkonstribusi menghidupkan peradaban riba.
Bosan kita melihat Masjid megah tapi tetangganya kelaparan. Lima peran di atas itu gak perlu ganti nama Masjid jadi Islamic Center for Economic Development. Tetap saja namanya Masjid. Tempat Sujud. Tapi sujud yang membuat kita berdiri tegak secara ekonomi, tidak menghamba kepada penguasa, tidak takut kepada selain Allah sebagaimana syarat pemakmur masjid di QS At-Taubah : 18.
Kalau Masjid cuma jadi tempat salat lalu pulang, maka selamanya kita akan jadi konsumen di negeri sendiri. Tapi kalau Masjid bergerak seperti ini, kita bisa ciptakan peradaban baru. Peradaban di mana urusan dunia dan urusan akhirat bisa jalan bareng, masyarakat harus diselamatkan dari utang modal ke Bank Non Islam.
Ayo, Takmir! Bangun. Jangan cuma rapat apalagi konflik. Kita tetap setuju fisik masjid dibuat indah, tapi visi masjid juga harus lebih indah.








