Simalungun. BongkarKasusNews.com– Berakhirnya perhelatan Job Fair di Kawasan Industri Sei Mangkei (KEK Sei Mangkei) pada Jumat (06/03), bukan berarti pengawasan mereda. Sebaliknya, Ikatan Jurnalis Raya Simalungun (IJRS) justru tancap gas untuk memastikan ribuan lamaran yang masuk tidak berakhir di “laci gelap” permainan oknum.
Ketua Umum IJRS, Gullit Saragih, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan ruang bagi praktik lancung dalam proses seleksi karyawan. Ia memberikan peringatan keras kepada perusahaan-perusahaan di kawasan industri tersebut agar tidak mencoba-coba bermain di luar koridor Standar Operasional Prosedur (SOP).
Gullit menyoroti poin krusial mengenai nasib tenaga kerja lokal. Menurutnya, kehadiran KEK Sei Mangkei harus menjadi jawaban nyata bagi kesejahteraan masyarakat Simalungun, bukan sekadar menjadi penonton di rumah sendiri.
”Kami mendesak perusahaan untuk memprioritaskan putra daerah Simalungun. Jangan sampai mereka hanya jadi saksi megahnya industri tanpa dilibatkan secara aktif. Tentu, kapasitas dan kriteria tetap jadi acuan, tapi keberpihakan pada warga lokal adalah harga mati,” tegas Gullit.
Satu hal yang menjadi perhatian utama IJRS adalah potensi terjadinya pungutan liar (pungli) atau permintaan imbalan oleh oknum-oknum yang menjanjikan kelulusan. Gullit mengingatkan bahwa rekrutmen ini harus bersih dari “bau amis” suap-menyuap.
IJRS mengharamkan segala bentuk kutipan atau fee dari pelamar kerja. IJRS juga berkomitmen mengawal proses dari tahap seleksi berkas hingga penetapan karyawan. Masyarakat dan peserta diimbau segera melapor jika menemukan indikasi “permainan” di bawah meja.
”Kami akan menyoroti setiap kejanggalan sampai tuntas. Jika ada yang mencoba bermain-main dengan harapan rakyat kecil yang butuh kerja, kami pastikan itu akan menjadi konsumsi publik yang tajam,” tambahnya dengan nada lugas.
Meski memberikan catatan kritis, IJRS tetap mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemkab Simalungun yang telah memfasilitasi bursa kerja ini. Sinergi ini dipandang sebagai amunisi efektif untuk menggerus angka pengangguran yang masih menjadi momok di daerah.
Penutupan Job Fair ini bukanlah akhir, melainkan awal dari ujian transparansi bagi manajemen perusahaan dan pemerintah dalam membuktikan keberpihakan mereka kepada masyarakat luas. (Red01)








