Silau Kahean. BongkarKasusNews.com – Komitmen aparat penegak hukum dalam memberantas penyakit masyarakat di wilayah hukum Polsek Silau Kahean kini dipertanyakan. Meski sepekan lalu pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Silau Kahean berjanji akan melakukan penyelidikan, fakta di lapangan menunjukkan aktivitas judi jenis tembak ikan dan togel masih eksis beroperasi tanpa hambatan.
Kondisi ini memicu keresahan mendalam di tengah masyarakat. Lambannya tindakan dari otoritas lokal membuat warga mulai kehilangan kepercayaan dan mendesak pimpinan kepolisian yang lebih tinggi untuk mengambil alih keadaan.
Mandulnya penegakan hukum di Silau Kahean memunculkan spekulasi liar di tengah masyarakat. Tak hanya kecewa karena janji penyelidikan yang tak kunjung terealisasi, muncul dugaan kuat adanya aliran dana atau “upeti” yang masuk ke kantong oknum pihak berwajib untuk memuluskan operasional perjudian tersebut.
”Kami curiga, kenapa sulit sekali ditindak? Padahal lokasinya terang-terangan. Jangan-jangan aparat sudah ‘dikondisikan’ atau menerima setoran rutin dari para bandar,” ungkap seorang tokoh masyarakat dengan nada getir, Selasa (12/05/2026).
Dugaan ini semakin menguat seiring dengan tidak adanya tindakan tegas (action) dari kepolisian sektor setempat. Masyarakat menilai, hanya adanya “main mata” antara oknum dan pengelola judi yang bisa menjelaskan mengapa bisnis haram ini tetap kokoh berdiri meski sudah menjadi konsumsi publik.
Mengingat situasi yang tidak kunjung berubah dan adanya isu miring mengenai integritas aparat di tingkat bawah, warga Silau Kahean kini menaruh harapan besar kepada Polres Simalungun. Mereka meminta Kapolres Simalungun segera turun tangan untuk melakukan pembersihan, baik terhadap praktik perjudiannya maupun terhadap oknum yang diduga menjadi “payung” pelindung.
Warga tidak butuh sekadar janji penyelidikan, melainkan tindakan nyata berupa penutupan lokasi dan penangkapan bandar. Polres Simalungun diminta memeriksa oknum-oknum di wilayah Silau Kahean yang diduga menerima upeti dari bandar judi. Selain itu, Polsek Silau Kahean dianggap tidak berdaya (atau enggan) menindak, sehingga Polres Simalungun wajib mengambil alih.
Kehadiran mesin judi tembak ikan dan togel ini disinyalir meningkatkan angka kriminalitas kecil dan memicu banyaknya kehilangan buah sawit dari kebun masyarakat. Jika aparat terus membiarkan praktik ini demi keuntungan pribadi melalui upeti, maka kredibilitas Polri di mata masyarakat Silau Kahean berada di titik terendah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah signifikan dari pihak Polsek setempat yang terlihat di lapangan, sementara keresahan warga terus memuncak menunggu kepastian hukum dan kejujuran dari para penegak hukum. (Tim)








